Minggu, 17 Mei 2015

Terakhir



 

 Sunset yang kutunggu-tunggu dari tadi  muncul perlahan-lahan. Menyembul malu-malu melirikku yang sudah menanti kedatangannya . Ah, keindahan sunset sore ini sulit kudeskripsikan. Benar-benar indah. Sangat mempesona  karena ini akan menjadi kali terakhir aku melihatnya.
Aku tersenyum kecut.  Merasa kerdil saat berdiri ditengah jembatan Berelang ini. Seolah aku hanyalah semut yang berdiri menantang julangan tinggi simfoni besi-besi .  Sungguh jembatan yang dibangun pada masa presiden ketiga benar-benar mengolokku. . Tak ada artinya. Sedangkan nun jauh dibawah sana hamparan laut mulai mengelam. Detik-detik pergantian siang malam baru saja dimulai.
Panggil aku Jack, nama samaranku di kota metropolitan ini.Kota Modern yang yang menjadi jalur terdekat ke Singapura.  Dan disini aku berdiri  memegang besi-besi jembatan bukan tanpa alasan. Tak hanya melihat sunset  terakhir , tapi juga  buku terakhir. Buku yang selama ini menjadi upah kerja part-time ku di sebuah toko bangunan di kompleks Nagoya. Malam-malamku akan terasa bergairah apabila buku itu telah sampai ditanganku. Sebaliknya, hariku akan kusut masai jika tak mendapatkannya.
Nah, itu dia, retina mataku langsung mengenali benda yang teronggok di sudut jembatan Berelang ini. Gegas ku mengambilnya dan membuka buku itu, riak bahagia segera muncul di mataku. Plastik  berisi butiran putih nyaris kugenggam kalau saja tak  kudengar,
“Anda tertangkap saudara Reno!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar