Sunset yang kutunggu-tunggu dari tadi muncul perlahan-lahan. Menyembul malu-malu
melirikku yang sudah menanti kedatangannya . Ah, keindahan sunset sore ini
sulit kudeskripsikan. Benar-benar indah. Sangat mempesona karena ini akan menjadi kali terakhir aku
melihatnya.
Aku tersenyum kecut. Merasa kerdil saat berdiri ditengah jembatan
Berelang ini. Seolah aku hanyalah semut yang berdiri menantang julangan tinggi simfoni
besi-besi . Sungguh jembatan yang
dibangun pada masa presiden ketiga benar-benar mengolokku. . Tak ada artinya. Sedangkan
nun jauh dibawah sana hamparan laut mulai mengelam. Detik-detik pergantian
siang malam baru saja dimulai.
Panggil aku Jack, nama samaranku di kota
metropolitan ini.Kota Modern yang yang menjadi jalur terdekat ke Singapura. Dan disini aku berdiri memegang besi-besi jembatan bukan tanpa
alasan. Tak hanya melihat sunset
terakhir , tapi juga buku
terakhir. Buku yang selama ini menjadi upah kerja part-time ku di sebuah toko
bangunan di kompleks Nagoya. Malam-malamku akan terasa bergairah apabila buku
itu telah sampai ditanganku. Sebaliknya, hariku akan kusut masai jika tak
mendapatkannya.
Nah, itu dia, retina mataku langsung
mengenali benda yang teronggok di sudut jembatan Berelang ini. Gegas ku
mengambilnya dan membuka buku itu, riak bahagia segera muncul di mataku. Plastik
berisi butiran putih nyaris kugenggam
kalau saja tak kudengar,
“Anda tertangkap saudara Reno!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar